Apa itu cinta? Pasti ada banyak sekali konsep tentang cinta di kepala setiap orang. Masing-masing membawa pemikiran mengenai makna kebenarannya sendiri. Menurut kamus bahasa Indonesia cinta adalah bla bla bla. Menurut orang tua, cinta adalah kasih sayang tak pernah lekang kepada anak-anaknya. Malah sering kebablasan, maksudnya karena sering dengan alasan demi anak maka segala hal bisa dilakukan. Cinta orang tua kepada anak, sering berbentuk pemberian tak berkesudahan. Berkorban, sering kita menyebutnya. Cinta anak kepada orang tua sering terdefinisi sebaliknya. Anak-anak akan mencintai orang tua hingga mereka tak membutuhkannya. Pada banyak kasus, cinta anak kepada orang tua dilakukan karena mereka “ewuh” harus membalas setiap budi kebaikan orang tua. Di sini cinta anak sangat terbatas.
Cinta sepasang umat manusia yang berlainan jenis adalah cinta yang berbalutkan passion. Ada letupan-letupan posesif di dalamnya, cemburu, harus memiliki, patah hati, menolak, menerima, menguasai, membenci. Kemudian ada cinta sesama jenis yang selalu didefinisikan orang sebagai cinta terlarang. Karena tidak lazim, laki-laki kok pacaran sama laki-laki, perempuan kok cium-cium perempuan juga. Itu tidak normal, tentu saja dalam konstruksi masyarakat, kalau pendapat Tuhan, saya tidak tahu, walaupun dalam beberapa kitab suci, dikatakan bahwa cinta sejenis itu memang terlarang. Tapi ada satu kalimat menarik yang diucapkan tokoh Bette (Jennifer Beals) dalam serial The L Word (serial televisi tentang kehidupan lesbian di Amerika yang tak mungkin tayang di sini, terlalu provokatif aku rasa), yaitu ketika dia diingatkan ayahnya yang konservatif tentang hukuman Tuhan kelak ia di neraka karena menjadi lesbian. Jawaban Bette amatlah singkat tapi sanggup menohok penonton, “I’m Your creation, and i’m proud of it!”. Bagi mereka yang menganut nilai-nilai seperti bapaknya Bette tentu akan sangat marah dan menganggap anaknya kurang ajar dan akan semakin dihukum Tuhan. Bagi mereka penganut paham liberal dan demokrasi, tentulah hanya manggut-manggut dengan senyum mengambang di bibir. Sekali lagi, it’s all about the definition.
Cinta terlarang selanjutnya adalah cinta yang dimiliki manusia yang masing-masing sudah mempunyai pasangan tapi masih saja melirik pasangan orang lain. Masyarakat mendefinisikannya sebagai “perselingkuhan”. Herannya, meskipun banyak peraturan dan larangan, toh masih saja banyak orang melakukannya. Bahkan tetangga saya sampai hamil gara-gara sering menyambangi dan disambangi lelaki sebelah rumah. Katanya rumput tetangga lebih hijau, perburuannya lebih menantang dan menggairahkan. Dalam hal ini terjadi hukum pembandingan yang sebenarnya berawal pada keirian, yang kalau dituruti maka acara “mbanding-mbandingke” ini ga akan berakhir. Semakin membandingkan maka semakin menderita, sebuah pertanda bahwa kita adalah manusia yang sombong untuk berterimakasih pada Tuhan.
Selanjutnya adalah cinta antara orang yang berbeda keyakinan. Cinta jenis ini juga masuk dalam definisi cinta terlarang. Orang yang menyembah Tuhan yang berbeda tidak boleh menikah. Dosa, murtad, kafir, masuk neraka. Itulah hujatan orang-orang pada umumnya. Padahal kalau mereka sedang enak-enak mengumbar nafsu, perbedaan agama sama sekali tidak penting, yang penting adalah mencapai kepuasan tertinggi alias orgasme. Jadi saya tertawa saja. Karena ternyata definisi tentang cinta terlarang antara orang yang berbeda keyakinan terletak di atas selembar kertas kawin saja, bukan dalam perbuatan untuk mencapai orgasme tadi. Saya jadi kasihan, Tuhan kok diibaratkan selembar kertas.
Banyak sekali definisi cinta sebenarnya, semua tergantung yang sedang mengalaminya. Anehnya masing-masing merasa berhak untuk menghakimi perasaan cinta yang dialami orang lain. Lalu apakah cinta menurutku? Cinta itu seperti kendaraan, ia alat, ia cara yang paling cepat untuk mengenal diri sendiri. Jalaludin Rumi dan Bunda Teresa mengalaminya. Kenapa? Karena mereka sudah melepaskan konsep cinta itu sendiri. Cinta mereka tak terbatas dan tak tergambarkan. Lihatlah betapa banyak orang yang bisa merasakan cinta mereka, karena mereka justru tak mendefinisikannya. Sementara kita masih menuruti pakem konstruksi sosial untuk menuruti konsep cinta yang mereka hadirkan. Cinta yang keluar dari definisi tersebut maka dianggap abnormal, kotor, sampah dan dilaknat Tuhan. Kita sama-sama memiliki dua mata, dua telinga, dua lubang hidung, dan batin. Masalahnya, hanya segelintir orang yang mampu menggunakan semuanya secara bersamaan, yang lainnya hanya memakai salah satunya saja, itupun dipakai untuk merasakan apa-apa yang ada didekatnya. Apa yang tersaji di sekitarnya, itulah yang benar. Tapi sungguh saya lelah sendiri kalau berdebat tentang cinta dengan teman, yang kemudian saya tersadar kalau semua yang kami omongkan hanyalah konsep, dipertengkarkan 100 tahun lagipun tak akan pernah selesai.
Cinta yang tak bersyarat, tak menyakiti, dan maha luas serta luhur seperti namanya yang indah kala diucapkan, memang milik mereka yang sudah tak terdefinisikan cintanya. Saya jadi ingat kalimat indah yang diucapkan Wentworth Miller (Michael Scofield dalam serial Prison Break) tentang penggosip dan media yang suka menilai dirinya seenak udelnya sendiri,
“ I contstantly have to define myself for others. The problem is that the definitions always belong to those who define, not to those who are defined”.
Tuh kan mas Scofield, “makna” itu memang milik mereka yang mendefinisikan………..