Frozen

Tentang cinta sebenarnya

Tapi juga tentang rasa bersalahI'm Frozen

Rasa bersalah yang tak berkesudahan

Rasa bersalah yang terus menempel kemanapun aku pergi

Rasa yang melekat dan tak mau menjauh

Rasa yang memenjarakan jiwa sampai ke tingkat terdalam

Relung yang bahkan aku tak bisa menjangkaunya

 

Sekarang

Ketika rasa itu tak juga mau pergi

Aku mengendap

Menyembulkan sesal

Aku bertanya pada diri

Aku bertanya pada semesta

Tentang sebuah hubungan

Cinta antara orang tua dan anak

Haruskah berat sebelah?

Wajibkah salah satunya harus membalas cinta yang telah diberikan?

Apakah konsep menurut, manut, dan berbakti itu sama?

Apakah konsep mengerti, memahami, menjalani itu juga sama?

 

Aku bertanya pada semesta

Yang dijawab oleh diri

Hati yang penuh amarah

Meskipun ia berteriak-teriak

Tak akan pernah saling mendengar

Hati yang penuh kasih

Meskipun diam

Akan saling mendengarkan walaupun belum terucap

 

Bibir hanya sarana untuk berkata

Sedangkan hati adalah sumber segala

Semesta bertanya

Penuh dengan apakah hatimu?

Aku jawab..hanya amarah, hanya emosi

Pantaslah aku tak mendengar apa-apa

Pantaslah bibirku tak bisa bicara

Frozen

You only see what your eyes want to see

How can life be what you want it to be

You’re frozen

When your hearts not open

 

Youre so consumed with how much you get

You waste your time with hate and regret

You’re broken

When your hearts not open

 

Mmmmmm, if I could melt your heart

Mmmmmm, we’d never be apart

Mmmmmm, give yourself to me

Mmmmmm, you hold the key

 

Now there’s no point in placing the blame

And you should know I suffer the same

If  I lose you

My heart will be broken

 

Love is a bird, she needs to fly

Let all the hurt inside of you die

You’re frozen

When your hearts not open

 

Published in: on November 20, 2008 at 3:34 am  Leave a Comment  
Tags: , ,

Bond yang tak lagi Klasik

Menonton seri James Bond terbaru di hari pertama film itu dirilis di Indonesia membuatku berangkat dengan harapan besar dan menggebu-gebu (halah kayak mo ngapain). Dalam pikiranku, yang berkecamuk adalah adegan-adegan yang lebih spektakuler dan bikin menggelinjang seperti hal nya Casino Royale. Ketika film dibuka, aku masih merasakan euphoria itu, keren banget! kejar-kejaran, kebut-kebutan, main tabrak hingga ke ruang interogasi bawah tanah di arena pacuan kuda yang lebih mirip tempat bertarungnya gladiator di Itali. Harapanku masih membubung tinggi sampai adegan dimana Bond mengejar sang pengkhianat hingga ke puncak gedung dan adu jotos hingga babak belur. Setelah itu…cita-cita saya kandas..(hahaha). Film berjalan agak datar, yang menolong adalah dialog yang diucapkan dengan blak-blakkan dan bagi telingaku terdengar menampar sekaligus lucu, dan sengak, sudah pasti. Kemudian sampai film seQUANTUM OF SOLACElesai, credit tittle beranjak, mulutku hanya berucap, “sudah? begitu saja? Oh ok…

 

Hati-hatilah dengan apa yang kau harapkan..hati-hatilah……

Mungkin karena aku berangkat dengan semangat pembandingan..yaa pembandingan dalam segala hal. Ya alur filmnya, actionnya, gadis bond-nya, teknologinya, soundtracknya bla bla bla. Jadi kekecewaanku pun berlipat-lipat. Meskipun begitu, ada juga harapanku yang terpuaskan pada 2 hal, karakter Bond yang makin dingin dan brutal serta percakapannya yang kadang cerdas, nakal tapi bisa bikin ketawa. Selanjutnya..yaaa gituu deehhh.

 

Kalo dalam film sebelumnya Bond dibantu berbagai alat-alat canggih, kali ini 90 persen yang ia andalkan adalah kekuatan ototnya. Bak bik buk murni. Pikiranku tambah mengawang-awang, “Kalo gitu, apa bedanya dengan film aksi lain, misalnya trilogy Bourne? Bukankah teknologi adalah ciri khas 007? Ok, aku bukan pengagung teknologi, tapi ketika itu sudah melekat menjadi “penanda” dan tiba-tiba mak jlegux lenyap..hampa rasanya dunia. Mungkin yang paling canggih hanya segenggam ponsel bermerek Sony Ericsson…tapi aku mengeluh lagi..lalu apa bedanya dengan Bourne? hahahaha

 

Karakter Bond dalam rengkuhan Daniel Craig memang lebih membumi, ia terkena sindrom jatuh cinta dan patah hati. Ia kuat di luar tapi rapuh di dalam. Dalam penggambaran dua sutradara, Martin Campbell (Casino Royale) dan Marc Foster (Quantum of Solace) tergambar jelas Mr. Bond yang mencandu dan dibunuh jiwanya oleh cinta itu sendiri. Namun kalo di tangan Martin Campbell (aku sesungguhnya berharap Om Botak ini lagi yang menyutradai Quantum of Solace) Bond masih ada taste “klasiknya”. Sebaliknya, ketika ditangani  Marc Foster, Bond menjadi kehilangan keklasikannya (baca: sentuhan teknologi). Dalam hal ini, aku kehilangan Mr. Q…

 

Mungkin harapanku yang terlalu tinggi Mr. Bond….

Cuma apa bedanya kau dengan film action lainnya, padahal ciri khas itu penting dalam sebuah karakter. Soundtracknya itu lho? kagak ada yang lebih bagus apa? Suara Alicia Keys dan Jack White sama sekali tidak kawin…musiknya sih “so Bond”…tapi kalo udah denger mereka nyanyi..aduuhhhhhh…this is the worst Bond’s soundtrack ever! Temenku malah lebih sadis lagi nanyanya..”Wit..ada pagelaran pupu ga?”…aku juga jawab dengan galak,”kagak!!”

 

Mungkin produsernya berharap dengan ditampilkannya Bond seperti itu, akan bisa menggaet penggemar baru yang tidak suka Bond dengan segala ketidakmurnian kepahlawanannya. Salah satu buktinya, adalah digaetnya penulis naskah kuat Paul Haggis. Sebagai penggagas film-film berkarakter kuat seperti Crush, Paul jugalah yang menulis cerita untuk Casino Royale. Gadis Bond kali ini? Mmmm…kalo boleh aku bilang: standar!. Malah menurutku yang paling menawan adalah ‘M’. Oma Judi Dench tetep tokcer bawain sosok yang satu ini.

 

Jadi..kalau ada yang berangkat ke bioskop dengan harapan besar terhadap Bond kali ini, harap tarik nafas panjang dulu..yaaappp..bismillah..setelah itu ceritakan padaku komentarmu? Siaaappp…..

Published in: on November 5, 2008 at 10:05 pm  Leave a Comment  
Tags: , ,

Bahasa Bumi dalam Bilangan Fu

The Forest

The Forest

Ada kisah yang lebih indah difantasikan daripada dituliskan. Dan ketika kisah itu dituliskan akan seperti menelanjangi diri. Oiya, aku jadi ingin membicarakan novel Bilangan Fu nya Ayu Utami. Di novel terbaru yang ia kerjakan dalam waktu 4 tahun ini, aku merasa ditampar untuk kemudian tersadar mengenai proses spiritualisme yang kali ini mendapat tambahan kata ”kritis”. Ya, di novel itu, Ayu Utami dengan cerdas menyuguhkan konsep Tuhan, konsep beragama, konsep keyakinan, mitos dan cinta yang sesungguhnya.

Pada awalnya, aku tidak begitu tertarik dan mulai malas-malasan membacanya, namun ketika sudah sampai di bagian tengah, otakku memerintahkan agar jangan berhenti. Karya yang sangat menarik dari segi penceritaan dan bahasa. Seperti biasa dia menggunakan gaya bahasa yang gamblang, dan lugas. Pun ketika dia menceritakan masalah keyakinan. Ini bagiku menohok bagi mereka yang sudah terlanjur kecanduan agama. Di era yang semakin menuntut kita untuk berpikir logis ini, seharusnya pemikiran kita juga semakin kritis terhadap apapun.
Ideologi adalah hal yang paling berbahaya dan mempengaruhi sebenarnya. Di tengah keserakahan manusia yang terus menerus memperkosa alam, seperti tebang pohon sembarangan, penggalian pasir, penambangan liar, dan pemusnahan suaka laut, kita seharusnya bisa memposisikan diri sebagai si alam itu. Biar ada rasa penghargaan kepada alam yang dengan begitu teguh menjaga kita. Dalam Bilangan Fu, Ayu Utami mengkritisi dan memprotes manusia melalui “pencerahan” agama bumi, yaitu penghargaan serta kecintaan kita pada alam. Dalam proses menghayati agama bumi tersebut, cara manusia berbeda-beda, karena memang tidak ada satu cara untuk semua orang. Ada yang melalui ritual sesajen dan itu populer di tanah jawa (setting novel ini).

Masalahnya, ritual kecintaan terhadap alam ini, kerap mendapat hadangan dari pihak-pihak yang mengatasnamakan diri sebagai penganut monotheisme. Mereka menghakimi orang-orang yang setia menjalani ritual itu sebagai perbuatan syirik terhadap Tuhan.
Padahal tanpa kita mengetahui maksud dan tujuan ritual itu, mana kita tahu makna yang sebenarnya. Alam kita juga punya hak untuk mempunyai kehidupan sendiri yang pantas untuk mereka nikmati. Pembelaan terhadap alam yang Ayu Utami lakukan melalui karyanya, seperti memberi makan melalui persembahan kepada alam, bukan berarti sebuah tindakan untuk menyekutukan Tuhan. Ada maksud lain yang lebih agung dan bijaksana, yakni untuk memelihara ciptaan-Nya. Tidak semuanya yang tampak di permukaan itu seperti yang terlihat. Jadi, mari kita semakin kritis terhadap segala yang terjadi.. ketika kita menjaga alam dengan cinta, alam pun menjaga kita dengan indah. Pernah melihat pedesaan dan hutan di benua Eropa sana? yang lidah kita pun kelu untuk menggambarkan keindahannya? Menurutku, itulah cara alam membalas cinta kita.. sangat indah kan?

Published in: on October 29, 2008 at 1:25 am  Leave a Comment  
Tags: , , , ,

Cinta yang terDefinisi

Apa itu cinta? Pasti ada banyak sekali konsep tentang cinta di kepala setiap orang. Masing-masing membawa pemikiran mengenai makna kebenarannya sendiri. Menurut kamus bahasa Indonesia cinta adalah bla bla bla. Menurut orang tua, cinta adalah kasih sayang tak pernah lekang kepada anak-anaknya. Malah sering kebablasan, maksudnya karena sering dengan alasan demi anak maka segala hal bisa dilakukan. Cinta orang tua kepada anak, sering berbentuk pemberian tak berkesudahan. Berkorban, sering kita menyebutnya. Cinta anak kepada orang tua sering terdefinisi sebaliknya. Anak-anak akan mencintai orang tua hingga mereka tak membutuhkannya. Pada banyak kasus, cinta anak kepada orang tua dilakukan karena mereka “ewuh” harus membalas setiap budi kebaikan orang tua. Di sini cinta anak sangat terbatas.

Cinta sepasang umat manusia yang berlainan jenis adalah cinta yang berbalutkan passion. Ada letupan-letupan posesif di dalamnya, cemburu, harus memiliki, patah hati, menolak, menerima, menguasai, membenci. Kemudian ada cinta sesama jenis yang selalu didefinisikan orang sebagai cinta terlarang. Karena tidak lazim, laki-laki kok pacaran sama laki-laki, perempuan kok cium-cium perempuan juga. Itu tidak normal, tentu saja dalam konstruksi masyarakat, kalau pendapat Tuhan, saya tidak tahu, walaupun dalam beberapa kitab suci, dikatakan bahwa cinta sejenis itu memang terlarang. Tapi ada satu kalimat menarik yang diucapkan tokoh Bette (Jennifer Beals) dalam serial The L Word (serial televisi tentang kehidupan lesbian di Amerika yang tak mungkin tayang di sini, terlalu provokatif aku rasa), yaitu ketika dia diingatkan ayahnya yang konservatif tentang hukuman Tuhan kelak ia di neraka karena menjadi lesbian. Jawaban Bette amatlah singkat tapi sanggup menohok penonton, “I’m Your creation, and i’m proud of it!”. Bagi mereka yang menganut nilai-nilai seperti bapaknya Bette tentu akan sangat marah dan menganggap anaknya kurang ajar dan akan semakin dihukum Tuhan. Bagi mereka penganut paham liberal dan demokrasi, tentulah hanya manggut-manggut dengan senyum mengambang di bibir. Sekali lagi, it’s all about the definition.

Cinta terlarang selanjutnya adalah cinta yang dimiliki manusia yang masing-masing sudah mempunyai pasangan tapi masih saja melirik pasangan orang lain. Masyarakat mendefinisikannya sebagai “perselingkuhan”. Herannya, meskipun banyak peraturan dan larangan, toh masih saja banyak orang melakukannya. Bahkan tetangga saya sampai hamil gara-gara sering menyambangi dan disambangi lelaki sebelah rumah. Katanya rumput tetangga lebih hijau, perburuannya lebih menantang dan menggairahkan. Dalam hal ini terjadi hukum pembandingan yang sebenarnya berawal pada keirian, yang kalau dituruti maka acara “mbanding-mbandingke” ini ga akan berakhir. Semakin membandingkan maka semakin menderita, sebuah pertanda bahwa kita adalah manusia yang sombong untuk berterimakasih pada Tuhan.

Selanjutnya adalah cinta antara orang yang berbeda keyakinan. Cinta jenis ini juga masuk dalam definisi cinta terlarang. Orang yang menyembah Tuhan yang berbeda tidak boleh menikah. Dosa, murtad, kafir, masuk neraka. Itulah hujatan orang-orang pada umumnya. Padahal kalau mereka sedang enak-enak mengumbar nafsu, perbedaan agama sama sekali tidak penting, yang penting adalah mencapai kepuasan tertinggi alias orgasme. Jadi saya tertawa saja. Karena ternyata definisi tentang cinta terlarang antara orang yang berbeda keyakinan terletak di atas selembar kertas kawin saja, bukan dalam perbuatan untuk mencapai orgasme tadi. Saya jadi kasihan, Tuhan kok diibaratkan selembar kertas.

Banyak sekali definisi cinta sebenarnya, semua tergantung yang sedang mengalaminya. Anehnya masing-masing merasa berhak untuk menghakimi perasaan cinta yang dialami orang lain. Lalu apakah cinta menurutku? Cinta itu seperti kendaraan, ia alat, ia cara yang paling cepat untuk mengenal diri sendiri. Jalaludin Rumi dan Bunda Teresa mengalaminya. Kenapa? Karena mereka sudah melepaskan konsep cinta itu sendiri. Cinta mereka tak terbatas dan tak tergambarkan. Lihatlah betapa banyak orang yang bisa merasakan cinta mereka, karena mereka justru tak mendefinisikannya. Sementara kita masih menuruti pakem konstruksi sosial untuk menuruti konsep cinta yang mereka hadirkan. Cinta yang keluar dari definisi tersebut maka dianggap abnormal, kotor, sampah dan dilaknat Tuhan. Kita sama-sama memiliki dua mata, dua telinga, dua lubang hidung, dan batin. Masalahnya, hanya segelintir orang yang mampu menggunakan semuanya secara bersamaan, yang lainnya hanya memakai salah satunya saja, itupun dipakai untuk merasakan apa-apa yang ada didekatnya. Apa yang tersaji di sekitarnya, itulah yang benar. Tapi sungguh saya lelah sendiri kalau berdebat tentang cinta dengan teman, yang kemudian saya tersadar kalau semua yang kami omongkan hanyalah konsep, dipertengkarkan 100 tahun lagipun tak akan pernah selesai.

Cinta yang tak bersyarat, tak menyakiti, dan maha luas serta luhur seperti namanya yang indah kala diucapkan, memang milik mereka yang sudah tak terdefinisikan cintanya. Saya jadi ingat kalimat indah yang diucapkan Wentworth Miller (Michael Scofield dalam serial Prison Break) tentang penggosip dan media yang suka menilai dirinya seenak udelnya sendiri,

“ I contstantly have to define myself for others. The problem is that the definitions always belong to those who define, not to those who are defined”.

Tuh kan mas Scofield, “makna” itu memang milik mereka yang mendefinisikan………..

Published in: on October 22, 2008 at 6:26 am  Leave a Comment  

Bosan

Pernah merasa bosan, jenuh, jengah? Haahhh..aku sedang merasakannya. Kalau rasa jengah itu sudah tiba, waahhh..hanya ingin berteriak lari-lari…hiyyaaaaaa orang gila lari-lari. Orang pasti mengalami dan mengatasi rasa jenuh dengan cara yang beda. Kalo aku, punya cerita yang bagiku ngisin-ngisini…ini kisahnya…

 rocks-your-so-boring2

Aku pernah terobsesi dengan James Bond versi Daniel Craig. Menurutku perannya saat itu di Casino Royale “lanang banget” inilah laki-laki yang mendominasi alur fantasiku tentang sebuah keidealan. Tangguh, tak terkendali dan jantannya luar biasa. Waaaaa…tapi sekarang rasanya gilo kalo nginget itu. Gimana tidak, bahkan aku pernah menderita depresi kangen sama dia selama seminggu, yang puncaknya, kulitku kudonasikan buat dijerang matahari selama satu jam, muter2 keliling kompleks perumahan di sekitar kosku tanpa tahu mesti kemana, hanya melamun, kosong, bosan dan jenuh. Haaaaaaaaaa..gilaaa…temenku berkata, “kalo mau tawaf mbok ya ngabarin dulu ..biar ak temenin…” haaaaaaaaaaa…Jadi aku sudah bergelar hajah..Hajah Pleburan. Nah lo..mau ditaruh di mana mukanya? Kata temenku lagi, mungkin aku memang ditakdirkan untuk berada di golongan Jebres..jurusan wong rak beres..hahaha.. tapi mungkin juga, ketika aku sedang dilanda kebosanan, aku juga sedang jadi oknum yang membosankan orang lain…

Tapi sore ini tiba–tiba aku kangen pisang goreng buatan ibu. Suasana hujan kala di rumah. Main sama keponakan yang lucu. Dan tadi malam aku kangen sama bapak. Mungkin itu puncak dari kejenuhanku. Aku bahkan teramat lupa dengan mimpi-mimpiku yang biasanya menggerakanku di pagi hari untuk langsung berselancar ke situs penerjemahan mimpi. Semesta…aku sedang sangat jengah, jenuh….ingin pulang….

Published in: on November 3, 2008 at 2:43 am  Leave a Comment  
Tags: , , , ,

GEMINI

Gemini

Gemini

Malam akan ditinggalkan menuju pagi, karena jarum jam sudah akan beranjak ke pukul 00 tengah malam. Letih ini sebenarnya menggangguku, tapi aku tetap menunggu pagi. Menanti malam berhenti.

Air mata air mata, kapan ia akan berganti? Aku tak menghendaki perhentian, tapi kini aku menginginkannya seperti jalang yang menghendaki kepuasan. Air mata air mata, benda hidup yang mematikan dan bisa menghidupkan. Ia setia hadir di saat pemilik mata sedih ataupun gembira tiada tara. Air mata air mata. Ia benda yang berada di antara dua dunia. Kerennya, ia biseksual, dan ia amphibi. Biseksual yang punya rasa.. asin. Tunggu, di bagian manakah rasa asin terpanggilkan? Ujung, pangkal atau tepi lidah? Ah, aku tak peduli. Aku hanya sedang heran dan terkagum tentang benda atau makhluk hidup yang mempunyai 2 dunia. Lho, berarti aku mempunyai 2 dunia juga, 2 muka, 2 wajah…dua hati..segalanya serba dua, mengingatkanku pada partai nomor 2 di era orde baru. Iya, aku berzodiak Gemini, rasi bintang dalam perbendaharaan ramalan kuno dan berlambangkan “kekembaran”.

Apakah aku bangga? Sekarang sering. Aku sering membanggakan diriku karena berada satu zodiac dengan Angelina Jolie dan Natalie Portman. Dua aktris yang kukagumi karena kekuatan otak dan tubuh mereka. Memang akan membutuhkan pengorbanan perasaan yang hebat sekali, tapi proses itu akan melahirkan kekuatan. Kami warga Gemini adalah penduduk yang sering kebingungan akan dualisme kami. Tapi pada intinya..kami baik kok…hehehehe..silakan dicermati bila ada warga Gemini di sekitar anda..

 

 

Published in: on October 27, 2008 at 11:48 pm  Leave a Comment  
Tags: , , ,

Berhenti

 Ada banyak makna “berhenti” dalam diri setiap manusia. Bagiku, apalagi tahun ini, kata berhenti mengandung makna 2 hal. Pertama, aku berhenti mencintai seseorang. Kedua, aku ingin berhenti mempekerjakan diriku di perusahaan yang sudah kudiami selama hampir 4 tahun. Berhenti, bagiku memiliki makna mengambil sebuah keputusan dan berani menjalaninya. Saat ini keputusan berhentiku adalah hasil pemikiran panjang yang dengannya aku sudah bertempur habis-habisan. Tapi memang keputusanku untuk berhenti ini sedikit dipengaruhi oleh kalimat Andy F Noya, “beranikah anda meninggalkan zona nyaman?”

Bicara soal zocontemplationna nyaman sepertinya adalah sesuatu yang melenakan ya? seperti ketika kita sedang asik mojok sambil melamun yang iya-iya dan enak-enak..nyamaann sekaliii…hingga kita tak sadar dan terseret akan keadaan yang memanjakan. yaaa..aku sudah berada di zona nyamanku sekian lama, dan sekarang saatnya untuk menguji keberanian di luar sana. sebenarnya ada banyak faktor sih yang mempengaruhi berhentinya seseorang dari sebuah kondisi yang dialaminya. bisa saja karena ia bosan, jenuh, bertengkar dengan teman karena mengetahui topeng yang selama ini dipakainya dll dll. ada banyak hal, yang kesemua faktor itu kemudian menggunung dan meledaklah ia pada waktunya.

Berhenti dalam sebuah meditasi (dalam hal ini aku bicara MMD) adalah diamnya pikiran. Tak ada masa lampau, tak ada masa depan, yang ada hanyalah masa sekarang. Berhenti bukan berarti kita diam selamanya, nggak. Kita terus berjalan, layaknya di sebuah persimpangan, ketika kita akan memutuskan hendak ke arah mana, nah di saat itu kita berhenti sejenak, untuk memutuskan. Tentu ketika saat itu tiba, kita sudah menyiapkan bekal cukup, tidak terburu-buru. Sebab pengambilan keputusan untuk berhenti mengandung resiko juga di dalamnya. Bekal yang cukup itu salah satunya adalah kematangan hati dan pikiran, selain materi tentu saja.

Jadi..beranikah aku berhenti? beranikah kau berhenti?

Published in: on October 21, 2008 at 3:44 am  Leave a Comment  
Tags: ,

Keheningan

Enjoy the Silence

Enjoy the Silence

Buddha berkata, ” Aku sudah lama berhenti, kenapa kau masih terus berlari.”
Pertama kali aku mendengarnya ketika mengikuti Meditasi Mengenal Diri di Vihara Mendut, 18 Oktober 2008. Bpk. Hudoyo, sang pembimbing mengucapkan kalimat itu seperti “palu” yang menghantam jantung. bagiku, kalimat sederhana nan dalam tersebut membuat yang mendengar tergetok batok kepalanya. dan aku tersadar, selama ini, kita selalu hidup dalam mimpi yang diseret oleh pikiran. Aku berpikir, maka aku ada, kata salah seorang filosof, ya memang benar. tanpa pikiran, seseorang seperti lenyap, karena ia tidak beraktivitas dan tidak berkeinginan. bagiku, pikiran itu justru perangkap bila kita terus menerus mengikutinya, karena kita malah menjadi lemah dan terseret.

Aku pernah berada pada satu titik, di mana hidupku dipenuhi oleh pikiran-pikiran ajaib yang menggilakan, dan terus terang..aku rasa aku sudah tidak waras. di tengah ketidakberdayaan menghadapi kegilaan pikiran itu, tiba-tiba ada tawaran untuk mengikuti MMD dari seorang teman, dan aku langsung mengiyakan. aku ikut pertama kali pada bulan Juli 2008, di Vihara Mendut juga. tujuanku menenangkan jiwa raga. tapi ketika sampai di sana, Bhante Pannyavaro dan Bpk. Hudoyo bilang, mereka yang datang dengan tujuan kesini tidak akan mendapatkan apa-apa. jeglux..aku meringis-ringis. yaa..memang benar, karena tak ada sesuatu yang harus dicapai memang. MMD hanya mengajak menyelami ke dalam diri melalui meditasi diam. tak bicara kepada orang maupun lingkungan sekitar. karena MMD itu memang untuk mengenal diri. kalau boleh saya katakan lebih jauh, untuk bercermin ke dalam diri, tentang siapa aku sebenarnya. yang harus dilakukan hanya “sadar”. nah itu yang sulit. untuk menghayati dan memaknai “sadar” sendiri, aku perlu waktu lama untuk tahu. bukan sekedar mengamati “ini tubuhku, perasaanku, pikiranku”, tapi juga menerima bahwa aku sedang berproses seperti yang sedang berjalan. mengerti? aku juga masih belajar. menurutku, dalam perjalanannya nanti, proses sadar ini akan menuju kepada “syukur”.

Rumit ya? iya, bagi yang hanya berpikir dan berkonsep, tentu rumit. hanya lakukan saja. diam dan hening. amati dan sadari diri sendiri. inilah aku…..jadi maksud Buddha mengatakan kalimat yang menurutku sangat puitis tersebut adalah “pikirannya sudah lama diam, hening…makanya dia bisa bebas dan bersatu dengan The Unknown, kepada yang terus berlari dengan keinginan membabi buta, berhentilah, karena kau tidak akan mendapat apa-apa.”

Published in: on October 20, 2008 at 11:01 am  Leave a Comment  

The Episode….

This day, i have my own episode, my love life has changing brutaly, just like roller coaster that spinning around, never stop until i have my next turn. My best friend, Bu Dian tell me, if you accept yourself, the universe will accept you. Those wonderful words are taken from Lao Tze, a great philosopher from China. Another wonderful thing i learn today is from my favorite singer, Jason Mraz. His song, “I’m Yours” makes me walk again one step ahead. I know, the path that I choose to take is symbolizes my passion about a life consignition. But i don’t regret it. I’m proud of it. I Love being me…. this is my episode…

Published in: on August 26, 2008 at 11:24 am  Leave a Comment  

Life isn’t fair, but it’s still good….

sunset-beachNature heals everything…
Nature..what’s nature give to you lately? my answer are lebam di lengan kanan, mual dan rice cooker. Yup..gara-gara kena tembak pas outbond kemarin…kulit lenganku berwarna ungu. yang kedua, perut mual krn flying fox dan ketiga adalah rice cooker..kok rice cooker? yup itu adalah doorprize saya dari sang pembuat acara..walopun tak dapat dipungkiri bahwa saya jealous dengan teman saya yang dapet dvd player..hu hu hu…kelebaman itu bertambah dengan karet baru di behelku yang menarik2 gigiku supaya bergeser..untuk mangap saja ngilu..
Semua kesakitan fisik itu, membuat leleh sesuatu yang bernama hati…i’ve made a big mistake…tik tok tik tok detak jam yang menyender di dinding membuatku sadar, sudah lama seharusnya aku tidak berada di sini….i’m indifferent..i need some space, but there’s no space left behind…but no matter how i feel, i get up, dress up and show up….life isn’t fair, but it’s still good……………….

Published in: on August 25, 2008 at 10:35 am  Leave a Comment  
Tags: , ,